Scroll untuk membaca artikel
Selasa, 24 Januari 2023 | 13:07 WIB

Contoh Teks Membaca Cerpen Berjudul Perjalanan Sebuah Kado karya Yonna Aparacitta, Lomba Literasi Tingkat SD Tahun 2023

Mahanta Musa
Contoh Teks Membaca Cerpen Berjudul Perjalanan Sebuah Kado karya Yonna Aparacitta, Lomba Literasi Tingkat SD Tahun 2023
contoh teks membaca cerpen lomba literasi tingkat SD tahun 2023 berjudul Perjalanan Sebuah Kado karya Yonna Aparacitta. (Pixabay)

SEMARANG SUARA- Berikut ini adalah contoh teks membaca cerpen lomba literasi tingkat SD tahun 2023 berjudul Perjalanan Sebuah Kado karya Yonna Aparacitta.

Contoh teks membaca cerpen lomba literasi tingkat SD tahun 2023 berjudul Perjalanan Sebuah Kado karya Yonna Aparacitta yang ada pada artikel ini hanya sebagai referensi untuk latihan menghadapi perlombaan.

Berikut kami sajikan contoh teks membaca cerpen lomba literasi tingkat SD tahun 2023 berjudul Perjalanan Sebuah Kado karya Yonna Aparacitta.

PERJALANAN SEBUAH KADO
(Oleh: Yonna Aparacitta)

Baca Juga:Teks Baca Puisi Lomba Literasi tingkat SD Tahun 2023 Berjudul "DOA" Karya Chairil Anwar

Besok sahabatku Salsa ulang tahun. Aku ingin memberinya kado yang istimewa. Kuambil uang di celenganku, sepertinya cukup untuk membeli kado buat sahabatku. 
“Kak, tolong aku diantar beli kado ya, buat temanku yang ulang tahun!” kataku pada Kakakku. 
“Oke, ayo!” ajak Kakakku. 
Kami mengambil sepeda motor dan langsung mengegasnya. “Brem…brem…!” bunyi motorku dan kami melaju menuju ke toko kado. Tak lama kemudian kami sampai, aku segera memilih kado dengan happy. Kupilih boneka Helo Kitty warna pink. Salsa sangat senang bermain boneka. Banyak sekali boneka di rumahnya. Tapi yang Helo Kitty sepertinya belum punya. “Sudah apa belum memilihnya?” tanya Kakakku. “Sudah, Kak!” seruku. Aku bawa kado itu ke kasir sambil merogoh uang dari kantongku. “Dik, kadonya dibungkus sekalian tidak?” tanya petugas kasir. “Iya, Mbak!” jawabku. Aku menunggu dengan sabar sampai kado itu usai dibungkus. Kemudian kami pun mengambil motor di parkiran. “Tik…tik…tik…!” Air mulai menetes dari langit dan semakin deras. Kami kembali lagi masuk ke emperan toko. Kakakku menengok jok motor. Ternyata isinya kosong, tidak ada jas hujan. “Untung kadonya nggak basah,” bisikku dalam hati. Aku rapikan kembali kado yang aku masukkan dalam plastik. “Kak, gimana pulangnya?” celotehku. Kita tunggu hujan sampai reda, kita kan tidak membawa jas hujan, jadi harus sabar menunggu, Dik,” kata Kakakku. “Waduh, bisa-bisa kemalaman, Kak!” kataku tak sabar. “Aku masih ada PR yang belum kukerjakan, Kak!” lanjutku lagi. “Sabar, to, Dik!” “Apa Kamu mau, kadonya basah?” kata kakakku agak jengkel. “Ya, jangan dong, Kak!” Aku mulai jengkel, bosan, dan pengin marah. Terbayang olehku PR di rumah yang belum kukerjakan. Padahal besok harus dikumpulkan. Aku tidak ingin Pak Guru memarahiku karena tidak mengerjakan PR. 
“Lha terus PR ku gimana, Kak?” tanyaku cemas. “Ya, dikerjakan nanti kalau sudah sampai rumah,” kata Kakakku sabar. Setengah jam kami menunggu tak kunjung reda juga. Memang sekarang musim hujan. Setiap hari hujan mengguyur kotaku. Kini aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Sedikit demi sedikit hujan pun berkurang. Kami nekat pulang tanpa jas hujan. Sepanjang perjalanan kulindungi kado yang telah kubeli agar tidak basah.
Di perjalanan ternyata hujan deras lagi. Kakakku membelokkan motornya di emperan tempat tambal ban yang sudah kosong tidak ada pemiliknya. Kami pun berteduh di situ. Kado yang aku beli kudekap dengan erat. Aku tidak ingin kado buat sahabatku basah kuyup. Beberapa kali Kakakku menadahkan tangannya ke luar emperan. Jika agak reda rencananya akan melanjutkan perjalanan lagi. Lima belas menit telah berlalu. Hujan masih agak deras. “Dik, sepertinya hujannya akan lama. Bagaimana kalau kita nekat pulang?” “Setuju, Kak, tapi kadonya bagaimana?” tanyaku ragu. “Kadonya dimasukkan kedalam bajumu, Dik, kemudian pegangan erat-erat, Kakak, semoga tidak basah,” jelas kakakku. Kami pun nekat menerobos hujan. Bajuku basah kuyup, tapi kado yang persis di depan perutku cukup terlindungi. Sepanjang jalan aku berdoa agar selamat dan kadonya tidak basah. Dari situ aku belajar bahwa perjalanan sebuah kado ternyata panjang mulai dari mengumpulkan uang, membeli, membungkus, membayar, dan melindunginya dari tetesan air hujan.

Berita Terkait

Tag

terpopuler

Lifestyle

Terkini

Loading...
Load More
Ikuti Kami

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda